Roberto Di Matteo Fokus Final, Bukan Nasib Di Chelsea


Roberto Di Matteo
Getty Images
Roberto Di Matteo menegaskan saat ini hanya berkonsentrasi memastikan kemenangan di final Liga Champions versus Bayern Munich, Sabtu (19/5) malam, bukan merenungkan masa depannya bersama Chelsea.

Sejak menjadi suksesor Andre Villas-Boas sebagai pelatih temporari, pria berpaspor Italia ini membawa The Blues juara Piala FA dan mengeliminasi Barcelona untuk merebut tiket final kompetisi antarklub bergengsi Eropa.

Meski dianggap sukses bersama The Blues, masa depan Di Matteo masih abu-abu karena pemilik klub Roman Abramovich juga dikabarkan terus mendekati pelatih lain. 

"Kami tak punya waktu atau ini tidak relevan untuk mengadakan pembicaraan mengenai itu. Kami semua fokus membicarakan kesuksesan," tandas Di Matteo dalam jumpa pers. 

"Saya tak tahu bagaimana masa depan. Saya sangat fokus ke laga ini."

Di Matteo menjalani karier sebagai pemain selama enam tahun di Stamford Bridge dan mengaku pengalamannya itu membantu memberikan efek positif kepada tim. 

"Saya tak memikirkan diri sendiri. Saya mencoba memikrikan tim, grup. Saya merasa bertanggung jawab atas klub ini. Mungkin kedengarannya egois, tapi itulah yang saya pikirkan."

"Apa yang terjadi dengan saya di luar dugaan. Saya percaya, untuk membuat sejarah di klub, sangat penting memiliki koneksi dengan suporter dan orang yang bekerja di klub," imbuh Di Matteo. 

"Anda tak pernah tahu, tapi mantan pemain Chelsea lainnya bisa saja menjadi pelatih Chelsea di masa depan."
(goal.com)

Marco Materazzi: Musim Depan Real Madrid Rajai Eropa


Marco Materazzi - Inter (Getty Images)
Episode mengharukan antara Marco Materazzi dan Jose Mourinho pasca final Liga Champions 2010 di Santiago Bernabeu pasti masih membekas di benak semua loyalis Inter Milan. Setelah berpesta di tengah lapangan, kedua sosok sentral kesuksesan I Nerazzurri itu berpelukan dan saling meneteskan air mata karena mengetahui perpisahan tidak lama lagi akan terjadi.

Saat diwawancarai oleh Marca, mantan bek tengah Inter tersebut mengeluarkan pujian terhadap The Special One dan dia menyebut klub berjuluk Il Biscione sejatinya bisa meneruskan kesuksesan jika Mourinho bertahan.

"Dia mendapat sebutan The Special One karena memang spesial. Mourinho sosok loyal dan pelatih hebat. Dia sanggup mengeluarkan potensi maksimal setiap pemain," kata Materazzi.

"Anda bahkan akan mengeluarkan kemampuan 110 persen di bawah komando Mourinho. Musim depan, kita akan menyaksikan kiprahnya yang terbaik."

"Andai Mourinho bertahan bersama Inter, maka trofi akan terus berdatangan seperti Piala Super Eropa dan Scudetto, sayang saat itu dia memilih menjajaki petualangan baru di Spanyol bersama Real Madrid."

"Saya tahu Mourinho akan pergi karena keputusan itu sudah lama dia buat. Mourinho berhasil menyumbang trofi di tahun pertama dan keduanya di Bernabeu. Musim depan tidak diragukan lagi, El Real akan mengangkat trofi Liga Champions," tandasnya.
(goal.com)

Juventus siapkan 20 pemain di Final


Juventus celebrating
Getty Images
Juventus baru saja menuntaskan sesi latihan terakhir di Vinovo sebelum bertarung di final Coppa Italia melawan Napoli. Pelatih Antonio Conte pun mengumumkan skuad yang dia siapkan untuk mengangkat trofi kedua musim ini.

Giorgio Chiellini dan Paolo De Ceglie dipastikan absen karena cedera, situasi ini bakal memaksa Conte menerapkan formasi 3-5-2 di final nanti. Martin Caceres kemungkinan besar akan bermain sejak menit pertama bersama Simone Pepe atau Estigarribia.


Di lini depan, Del Piero berpeluang menjadi starter untuk yang terakhir kali bagi Juventus dan Mirko Vucinic kemungkinan besar mendapat kehormatan bekerja sama dengan sang legenda untuk membobardir gawang lawan.

Berikut ini daftar lengkap 20 pemain Juventus di final Coppa Italia:

1 Buffon 4 Caceres 7 Pepe 8 Marchisio 10 Del Piero 13 Manninger 14 Vucinic 15 Barzagli 18 Quagliarella 19 Bonucci 20 Padoin 21 Pirlo 22 Vidal 23 Borriello 24 Giaccherini 26 Lichtsteiner 28 Estigarribia 30 Storari 32 Matri 34 Marrone

(goal.com)

Philippe Coutinho Kembali Ke Pelukan Inter Milan


Philippe Coutinho - Inter (Getty Images)
Getty Images
Meskipun menyelesaikan paruh kedua kompetisi bersama Espanyol, Philippe Coutinho tidak memiliki keraguan sama sekali soal masa depannya. Pemain muda asal Brasil itu hanya memikirkan Inter Milan.

"Bersama Espanyol saya memiliki kesempatan untuk memperlihatkan potensi yang dimiliki, karena saya lama tidak bermain," ujarnya di Corriere dello Sport.


"Berpetualang di Spanyol memberi saya rasa percaya diri dan secara fisik saya merasa sangat prima. Saya selalu memiliki hubungan spesial dengan Inter. Saya gembira musim depan kembali mengenakan kostum Nerazzurri."

"Saya ingin berkembang dan membuktikan diri mampu memberi kontribusi besar di Giuseppe Meazza."

La Liga sangat berguna bagi para pemain muda untuk mengembangkan potensi dan hal ini diakui oleh Coutinho.

"Saya merasa lebih dewasa. Pengalaman di Spanyol sangat membantu dan saya akan membuktikan hasilnya nanti," lanjut Coutinho.

"Di Spanyol saya diperlakukan dengan baik, saya harus mengucapkan terima kasih. Tetapi saya masih terikat kontrak dengan Inter dan ingin mewujudkan mimpi mengangkat trofi dengan kostum Hitam-Biru," tegasnya.

(goal.com)

Wesley Sneijder: Saya Bahagia Di Inter Milan!


Wesley Sneijder - Inter
Getty Images
Gelandang Inter Milan Wesley Sneijder menegaskan bahwa dirinya merasa bahagia di Giuseppe Meazza, ia mengaku telah berbicara dengan presiden Massimo Moratti.

Seperti yang diketahui, pemain asal Belanda tersebut dikabarkan akan menyebrang ke rival sekota, AC Milan, setelah sebelumnya ia juga pernah dikabarkan akan hengkang ke Manchester United.

"Saya sudah sangat bersemangat untuk menjalani Euro 2012 dan saya merasa sangat baik," ungkap Sneijder kepada Tuttosport.

"Kalimat Massimo Moratti membuat saya senang, saya yakin tahun depan akan menjadi cerita yang berbeda dan presiden akan merekrut pemain-pemain penting."

"Dalam kondisi apapun, saya bahagia di Inter dan saya merasa menjadi bagian dari tim."

(goal.com)

"Cech Siap Hadapi adu Penalti"


EPL:Petr Cech, Chelsea v Newcastle United
Getty
Penjaga gawang Chelsea Petr Cech menyatakan, ia sudah siap menghadapi adu penalti dalam pertandingan final Liga Champions melawan Bayern Munich di Stadion Allianz Arena, Minggu (20/5) dinihari WIB.

Cech pernah mengalami adu penalti di final kompetisi elit antarklub Eropa tersebut pada 2008. Namun Chelsea gagal menjadi juara setelah dikalahkan Manchester United usai bermain imbang 1-1 sepanjang 120 menit.

Kendati optimistis The Blues bakal memenangi laga melalui duel 90 menit, Cech tetap sudah mempersiapkan diri mengenai kemungkinan terjadinya adu penalti.

“Saya sudah mendapatkan semua informasi yang saya butuhkan untuk adu penalti. Tapi menurut saya, pertandingan ini akan selesai 90 menit,” ujar Cech kepada wartawan.

“Saya sudah melihat rekaman permainan Bayern. Saya sudah berusaha semampu saya. Namun pada akhirnya semua ditentukan oleh momen, apakah eksekutor penalti sudah cukup kuat untuk tetap tenang, dan menempatkan bola dengan baik.”

“Jika dia sudah siap, maka kiper tak punya kesempatan. Dalam adu penalti, Anda harus memaksa pemain lawan melakukan kesalahan.”

“Pada 2008, kami punya banyak informasi mengenai tendangan penalti Manchester United. Kami sudah pernah kalah dalam adu penalti sebelumnya. Anda tidak bisa berharap dari apa yang Anda lihat. Anda harus bergantung kepada insting Anda.”

(goal.com)

Roy Keane: John Terry Layak Angkat Trofi


EPL: Roy Keane, Sunderland v Bolton Wanderers (PA)
Keane menaruh simpati besar kepada kapten The Blues itu. Pasalnya dia sempat merasakan apa yang dirasakan Terry. Pada final Liga Champions 1998/99 Keane tidak dapat memperkuat The Red Devils di final menghadapi Bayern di Barcelona. Saat itu perasaannya sangat kacau. Namun ketika United menang dia sangat gembira dan dia merayakan kemenangan tersebut dengan rekan-rekannya. Jadi menurutnya tak ada alasan Terry tidak merayakan kesuksesan timnya.


"Saya kira keputusan yang diambil UEFA sangat berlebihan. Saya justru berpikir sebaliknya. Ketika Chelsea menang Terry harus menjadi orang pertama yang bangkit dan mengakat trofi Liga Champions itu. Dia layak mendapat kehormatan tersebut," terang Keane. 

Dia kemudian menambahkan kalau perasaan Terry jauh lebih menegangkan ketimbang rekan-rekannya yang tampil di lapangan. Hanya duduk manis dan menyaksikan rekan-rekannya berlaga adalah hal yang sangat buruk. Ini akan sangat menyiksanya karena dia tidak bisa membantu apa-apa. Belum lagi jika Chelsea akhirnya kalah. Ini akan membuat Terry semakin menderita. 

"Ada banyak hal yang dipikirkan Terry. Pikirannya terbagi-bagi. Ini akan menjadi hari yang sulit untuknya. Namun jika The Blues menang, dia pasti akan bersorak," ungkap Keane.

{kompas.com)
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Artikel Kini - All Rights Reserved
Template Modify by Creating Website
Proudly powered by Blogger